TENTANG KAMI

Foto saya
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Kami lahir untuk semua.

Sabtu, 07 Mei 2011

Lesson Study










Lesson



Study


Apa, Mengapa, dan Bagaimana?
 










A.   Tujuan
Setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 3 ini, pembaca  diharapkan dapat mengenal  dan memahami esensi dari Lesson Study, manfaat, dan cara pengimplementasiannya dalam meningkatkan mutu pendidikan.

B.   Pendahuluan
Pemerintah selalu berusaha melakukan usaha peningkatan mutu guru melalui pelatihan dan tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Sayangnya usaha dari pemerintah tersebut kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Minimal ada dua hal yang menyebabkan pelatihan guru belum berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan. Pertama, pelatihan seringkali tidak berbasis pada masalah nyata yang timbul di dalam kelas. Materi pelatihan yang sama disampaikan kepada semua guru tanpa mengenal daerah asal. Padahal kondisi sekolah di suatu daerah belum tentu sama dengan daerah lainnya. Kadang – kadang pelatih menggunakan sumber dari literatur asing tanpa melakukan ujicoba terlebih dahulu untuk kondisi di Indonesia. Kedua, hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan pada pembelajaran di kelas atau kalaupun diterapkan hanya diterapkan sekali saja, dua kali dan selanjutnya kemabli “seperti dulu lagi, back to basic”. Hal ini disebabkan tidak ada kegiatan monitoring pasca pelatihan, apalagi kalau kepala sekolah tidak pernah menanyakan hasil pelatihan. Selain itu kepala sekolah tidak memfasilitasi forum sharing pengalaman diantara guru – guru.

Untuk mengatasi pengalaman pelatihan konvensional yang kurang menekankan pada pasca pelatihan maka modul ini menawarkan model in service training yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan guru sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapi masing – masing. Model tersebut adalah Lesson Study (LS) yaitu suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip – prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Dengan demikian, LS bukan suatu metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan LS dapat menerapkan berbagai metoda/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.

C.   Langkah – langkah Melakukan LS
LS dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See ( merefleksi) yang berkelanjutan. Dengan kata lain LS merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement). Skema kegiatan LS diperlihatkan pada gambar berikut:


 










Gambar 1. Skema Kegiatan Lesson Study


Langkah Pertama
 


   


Peningkatan mutu pendidik melalui LS dimulai dari tahap perencanaan (plan) yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa dan berpusat pada siswa, dengan maksud agar siswa berpartisispasi katif dalam kegiatan pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dilakukan sendirian akan tetapi dikerjakan bersama oleh beberapa orang guru atau guru – guru dapat berkolaborasi dengan dosen suatu LPTK dan Widyaiswara LPMP untuk lebih memperkaya ide. Perencanaan diawali dari analisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Permasalahan dapat berupa materi bidang study yang terjait dengan cara menjelaskan suatu konsep. Permasalahan dapat juga berupa tentang hal pedagogi yaitu mengenai metode pembelajaran yang tepat agar tercipta proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Selain itu permasalah juga dapat berupa langkah mensiasati menanggulangi permasalahan fasilitas pembelajaran.

Selanjutnya guru secara bersama – sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi yang dituangkan dalam rancangan pembelajaran (lesson plan) dan teaching material berupa media pembelajaran dan lembar kerja siswa serta metode evaluasi. Kegiatan perencanaan memerlukan beberapak kali pertemuan (2 – 3 kali) agar lebih mantap. Pertemuan – pertemuan yang sering dilakukan dalam bentu workshop antara guru – guru dan dosen (widyaiswara) dalam rangkan perencanaan pembelajaran menyebabkan terbentuknya kolegalitas antara guru dengan guru, dosen (widyaiswara) dengan guru, dosen (widyaiswara) dengan dosen (widyaiswara), sehingga dosen (widyaiswara) tidak merasa lebih tinggi atau guru tidak merasa lebih rendah. Mereka berbagi pengalaman dan saling belajar sehingga melalui kegiatan – kegiatan pertemuan dalam rangkan LS ini terbentuk mutual learning (saling belajar).




 





Langkah kedua dalam LS adalah pelaksanaan (Do) pembelajaran untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam perencanaan. Dalam perencanaan telah disepakati siapa guru yang akan mengimplementasikan pembelajaran dan sekolah yang akan menjadi tuan rumah. Langkah ini bertujuan untuk mengujicoba efektivitas pembelajaran yang telah dirancang. Guru – guru lain dari sekolah yang bersangkutan atau dari sekolah lain bertindak selaku pengamat (observer) pembelajaran. Para dosen (widyaiswara) juga melakukan pengamatan dalam pembelajaran tersebut. Kepala sekolah terlibat dalam pengamatan pembelajaran dan memandu kegiatan.

Sebelum pembelajaran dimulai sebaiknya dilakukan briefing kepada para pengamat untuk menginformasikan kegiatan pembelajaran yang direncanakan oleh seorang guru dan mengingatkan bahwa selama pembelajaran berlangsung pengamat tidak mengganggu kegiatan pembelajaran tetapi mengamati efektivitas siswa selama pembelajaran. Fokus pengamatan ditujukan pada interaksi siswa – siswa, siswa – bahan ajar, dan siswa – lingkungan yang terkait dengan empat kompetensi guru sesuai denga UU no 14 tentang Guru dan Dosen.

Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru model dapat memberikan gambaran secara umum tentang hal yang akan terjadi di dalam kelas yakni meliputi informasi tentang rencana pembelajaran, tujuan pembelajaran, konsep prasyarat yang terkait, kedudukan materi ajar dalam kurikulum yang berlaku, dan kemungkinan respon siswa yang diharapkan. Selain itu observer juga perlu diberikan informasi tentang lembar kerja siswa dan peta posisi tempat duduk yang menggambarkan setting kelas yang digunakan. Akan lebih baik jika peta posisi tempat duduk tersebut dilengkapi dengan nama – nama siswa secara lengkap. Dengan memiliki gambaran yang lengkap tentang pembelajaran yang akan dilakukan, maka observer dapat menetapkan hal yang akan dilakukannya di dalam kelas selama proses pengamatan berlangsung.

Lembar observasi pembelajaran perlu dimiliki oleh para pengamat sebelum pembelajaran dimulai. Para pengamat dipersilahkan mengambil tempat di ruang kelas yang memungkinkan dapat mengamati aktivitas siswa. Biasanya para pengamat berdiri di sisi kiri dan kanan di dalam ruang kelas agar aktivitas siswa teramati dengan baik.

Selama pengamatan berlangsung, para pengamat tidak boleh berbicara dengan sesama pengamat dan tidak mengganggu aktifitas dan konsentrasi siswa. Para pengamat boleh melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan studi lebih lanjut. Keberadaan para pengamat di dalam ruang kelas di samping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.










 




Langkah ketiga dalam kegiatan LS adalah refleksi (see). Setelah selesai pembelajaran, langsung dilakukan diskusi antara guru dan pengamat yang dipandu oleh Kepala Sekolah (fasilitator) atau personal yang ditunjuk untuk membahas pembelajaran. Guru mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan – kesan dalam melaksanakan pembelajaran. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar dan lesson learnt  dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas siswa. Tentunya, kritik dan saran untuk guru disampaikan secara bijak demi perbaikan pembelajaran. Sebaiknya, guru harus dapat menerima masukkan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya. Langkah – langkah kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan refleksi adalah sebagai berikut:

1.     fasilitator memperkenalkan peserta refleksi yang ada di ruangan sambil menyebutkan bidang – bidang keahliannya;
2.    fasilitator menyampaikan agenda kegiatan refleksi yang akan dilakukan (sekitar 2 menit). Fasilitator menjelaskan aturan main tentang tata cara memberikan komentar atau mengajukan umpan balik. Aturan tersebut meliputi 3 hal berikut: (1) selama diskusi berlangsung hanya satu orang yang bicara (tidak ada yang berbicara secara bersamaan), (2) setiap peserta diskusi memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara, (3) pada saat mengajukan pendapat, observer harus megajukan bukti – bukti hasil pengamatan sebagai dasar dari pendapat yang diajukan (tidak berbicara berdasarkan opini;
3.    fokus observasi yang diungkap adalah, (1) kapan siswa mulai belajar, (2) kapan siswa mulai bosan belajar, (3) apa yang didapat dari pembelajaran tadi?

D.  Dari Mana Lesson Study Berasal?
LS sudah berkembang di Jepang sejak tahun 1900 an. Melalui kegiatan LS guru – guru di Jepang mengkaji pembelajaran melalui perencanaan dan observasi bersama yang bertujuan untuk memotivasi siswa – siswanya aktif belajar mandiri.

LS merupakan terjemahan langsung dari bahasa jepang Jugyeknkyu, yang berasal dari kata jugyo yang berarti lesson atau pembelajaran, dan kenkyu yang berarti study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. LS dapat diselenggarakan oleh kelompok guru – guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang, semacam MGMP di Indoensia. Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumpul untuk melaksanakan LS.

LS yang sangat populer di Jepang adalah LS yang diselenggarakan oleh suatu sekolah dan dikenal dengan konaikenshu yang berkembang sejak awal tahun 1960-an. Konaikenshu juga terbentuk dari dua kata yaitu konai yang berarti di sekolah dan kenshu yang berarti pelatihan. Jadi istilah konaikenshu berari school – based in – service training atau in – service education within the school atau in –house worshop.

Pada tahun 1970 – an pemerintah Jepang merasakan manfaat dari konaikenshu dan sejak itu pemerintah Jepang mendorong sekolah – sekolah untuk melaksanakannya. Bukti dorongan pemerintah Jepang adalah dengan menyediakan dukungan biaya dan insentif bagi sekolah yang melaksanakan program ini. Kebanyakan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Jepang melaksanakan Konaikenshu. Walaupun pemerintah Jepang telah menyediakan dukungan biaya, namun kebanyakan sekolah melaksanakan konaikenshu secara sukarela, karena sekolah merasakan manfaatnya.

Alasan mengapa LS menjadi populer di Jepang karena LS sangan membantu guru – guru dalam meningkatkan keterampilan belajar mengajar mereka. Selain itu program ini juga telah meningkatkan keseriusan, intensitas, dan tanggung jawab guru selaku profesional. Hal itu kemudian meningkatkan mutu sekolah.

E.   Siapa yang Melakukan Lesson Study
LS adalah suatu kegiatan kolaborasi dengan inisiatif pelaksanaan idealnya datang dari Kepala sekolah bersama guru. Siapa yang melakukan kegiatan tersebut sangat bergantung pada tipe LS yang dikembangkan. Jika LS yang dikembangkan berbasis sekolah, maka orang – orang yang melakukannya adalah semua guru dari berbagai bidang study di sekolah tersebut bersama dengan Kepala sekolah. LS dengan tipe seperti ini dikembangkan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa menyangkut semua bidang study yang diajarkan. Karena kegiatan LS meliputi, perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi, maka guru harus terlibat aktif dalam ketiga kegiatan tersebut. Dalam setiap langkah dari kegiatan LS, guru memperoleh kesempatan untuk melakukan identifikasi masalah pembelajaran, mengkaji pengalaman belajar yang biasa dilakukan, memilih alternatif model pembelajaran yang akan digunakan, merancang rencana pembelajaran, mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang akan dipilih, melaksanakan pembelajaran, melakukan observasi proses pembelajaran, mengidentifikasi hal – hal penting yang terjadi dalam aktivitas belajar siswa di kelas, melaksanakan refleksi bersama – sama atas hasil observasi kelas, serta mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas pelaksanaan dan hasil pembelajaran lainnya. Walaupun LS seperti ini secara umum hanya melibatkan warga sekolah yang bersangkutan, dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk melibatkan pihak luar, misalnya dosen dan widyaiswara.

LS juga bisa dilaksanakan dengan berbasis MGMP (bidang studi). Sebagai contoh, sekelompok guru matematika di suatu wilayah bersepakat untuk melakukan LS guna meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika di wilayah tersebut. Karena kelompok guru matematika tersebut berasal dari beberapa sekolah, maka pelaksanaannya dapat dilakukan secara bergiliran dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Langkah – langkah kegiatan yang dilakukan dalam LS tipe ini pada dasarnya sama seperti tipe LS yang disebutkan sebelumnya. Perbedaannya hanya pada angota komunitas yang datang dari beberapa sekolah dengan spesialisasi yang sama. Dengan demikian, LS tipe ini anggota komunitasnya bisa mencakup satu wilayah (misalnya satu wilayah MGMP), satu kabupaten, atau lebih luas lagi.

Jika kita perhatikan secara seksama, kedua tipe LS di atas pada dasarnya melibatkan sekelompok orang yang melakukan perencanaan, implementasi, dan refleksi pasca pembelajaran sehingga membentuk suatu komunitas belajar yang secara sinergis diharapkan mampu menciptakan terobosan – terobosan  baru dalam menciptakan pembelajaran inovatif. Dengan cara seperti ini, maka setiap anggota komunitas yang terlibat sangat potensial untuk mampu melakukan self – development sehingga memiliki kemandirian untuk berkembang bersama – sama dengan anggota komunitas belajar lainnya.


F.   Bagaimana Tindak Lanjut dari Kegiatan Lesson Study?
Kegiatan LS pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang mampu mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning community) yang secara konsisten melakukan continus improvement baik pada level individu, kelompok, maupun pada sistem yang lebih umum. Pengetahuan yang dibentuk pada LS dapat dijadikan modal peningkatan kualitas kinerja pihak – pihak yang terlibat. Sebagai contoh seorang guru yang terlibat dalam observasi LS, berhasil menemukan sejumlah hal penting berkenaan dengan model pembelajaran yang dikembangkan.

LS memiliki dampak cukup luas bagi munculnya ide – ide pengembangan pendidikan yang inovatif. Dengan demikian jika LS yang dilakukan benar – benar dipersiapkan dengan baik sehingga setiap guru merasa memperoleh pengetahuan yang sangat berharga, maka baik disadari ataupun tidak, tindak lanjut dari kegiatan tersebut akan terjadi dengan sendirinya baik itu berlangsung pada tataran individu, kelompok, atau sistem tertentu.




















 




1.     Apa yang melatarbelakangi dilaksanakan program Lesson Study di Indonesia?
2.    Apa yang dimaksud dengan Lesson Study?
3.    Bagaimanakah tahapan – tahapan dalam pelaksanaan Lesson study?
4.    Ceritakan kegiatan – kegiatan yang harus dilakukan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi Lesson Study?
5.    Menurut pendapat Anda dapatkah inovasi Lesson Study diterapkan dalam peningkatan profesionalisme guru? Kenapa?




























Daftar Pustaka

Disarikan dari buku Lesson Study (Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesaionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP – JICA)) diterbitkan oleh UPI PRESS, 2006.

Daftar pustaka yang tercantum dalam buku tersebut adalah sebagai berikut:

Baba, T. and Kojima, M. (2003). Lesson Study, In Japan International Cooperation Agency (Ed.) Japanese Educational Experiences. Tokyo: Japan International Cooperation Agency.

Fernandez, C., and Yoshida, M. (2004). Lesson Study: A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and learning. New Jersey: Lawrence Erlbuaum Associates Publishers.

Indonesia (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Indonesia (2005). Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.

Lewis, C, Perry, R., and Hurd, J. (2004). A Deeper Look at Lesson Study. Educational Leadership.

Stevenson, H. W., and Stigler, J. W.. (1999). The Learning gap. New York: Touchstone.

Nonaka (2005). Knowledge Creation. Makalah Presentasi pada Seminar Nasional yang Diselenggarakan Universitas Indonesia.

Stigler, J. W., and Hiebert, J. (1999). The Teaching Gap: Best Ideas from the World’s Teachers for Improving Education in The Classroom. New York: The Free Press.

Saito, E., Harun, I., Kuboki, I., and Tachibana, H. 92006). Indonesian Lesson Study in Practice: Case Study of Indonesian Mathematics and Sciemce teacher Education Project. Journal of In – Service Education. 32 (2): 171 – 184.

Saito, E., Sumar, H., Harun, I., Ibrohim, Kuboki, I., and Tachibana, H. (2006). Development of School – Based In – Service Training Under an Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving School. 9 (1): 47 – 59.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar